Bantahan teori Darwin
KERUNTUHAN TEORI EVOLUSI
Filsafat merupakan “materialisme”, yang mengandung sejumlah
pemikiran penuh kepalsuan tentang mengapa dan bagaimana manusia muncul di muka
bumi. Materialisme mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu pun selain materi dan
materi adalah esensi dari segala sesuatu, baik yang hidup maupun tak hidup.
Berawal dari pemikiran ini, materialisme mengingkari keberadaan Sang Maha
Pencipta, yaitu Allah. Dengan mereduksi segala sesuatu ke tingkat materi, teori
ini mengubah manusia menjadi makhluk yang hanya berorientasi kepada materi dan
berpaling dari nilai-nilai moral. Ini adalah awal dari bencana besar yang akan
menimpa hidup manusia.
Kerusakan ajaran materialisme tidak hanya terbatas pada
tingkat individu. Ajaran ini juga mengarah untuk meruntuhkan nilai-nilai dasar
suatu negara dan masyarakat dan menciptakan sebuah masyarakat tanpa jiwa dan
rasa sensitif, yang hanya memperhatikan aspek materi. Anggota masyarakat yang
demikian tidak akan pernah memiliki idealisme seperti patriotisme, cinta
bangsa, keadilan, loyalitas, kejujuran, pengorbanan, kehormatan atau moral yang
baik, sehingga tatanan sosial yang dibangunnya pasti akan hancur dalam waktu
singkat. Karena itulah, materialisme menjadi salah satu ancaman paling berat
terhadap nilai-nilai yang mendasari tatanan politik dan sosial suatu bangsa.
Masalah psikis orang-orang yang tidak beriman telah ada
sepanjang sejarah. Dalam Al Quran dinyatakan:
“Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan
orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula)
segala sesuatu ke hadapan mereka niscaya mereka tidak (juga) akan beriman,
kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”
(QS. Al An’aam, 6: 111)
Darwin muda sangat takjub melihat beragam spesies makhluk
hidup, terutama jenis-jenis burung finch tertentu di kepulauan Galapagos.
Iadarwin2 mengira bahwa variasi pada paruh burung-burung tersebut disebabkan
oleh adaptasi mereka terhadap habitat. Dengan pemikiran ini, ia menduga bahwa
asal usul kehidupan dan spesies berdasar pada konsep “adaptasi terhadap
lingkungan”. Menurut Darwin, aneka spesies makhluk hidup tidak diciptakan
secara terpisah oleh Tuhan, tetapi berasal dari nenek mo-yang yang sama dan
menjadi berbeda satu sama lain akibat kondisi alam. Hipotesis Darwin tidak berdasarkan
penemuan atau penelitian ilmiah apa pun; tetapi kemudian ia menjadikannya
sebuah teori monumental berkat dukungan dan dorongan para ahli biologi
materialis terkenal pada masanya. Gagasannya menyatakan bahwa individu-individu
yang beradaptasi pada habitat mereka dengan cara terbaik, akan menurunkan
sifat-sifat mereka kepada generasi berikutnya. Sifat-sifat yang menguntungkan
ini lama-kelamaan terakumulasi dan mengubah suatu individu menjadi spesies yang
sama sekali berbeda dengan nenek moyangnya. (Asal usul “sifat-sifat yang
menguntungkan” ini belum diketahui pada waktu itu.) Menurut Darwin, manusia
adalah hasil paling maju dari mekanisme ini.
Darwin menamakan proses ini “evolusi melalui seleksi alam”.
Ia mengira telah menemukan “asal usul spesies”: suatu spesies berasal dari
spesies lain. Ia mempublikasikan pandangannya ini dalam bukunya yang berjudul
The Origin of Species, By Means of Natural Selection pada tahun 1859. Darwin
sadar bahwa teorinya menghadapi banyak masalah. Ia mengakui ini dalam bukunya
pada bab “Difficulties of the Theory”. Kesulitan-kesulitan ini terutama pada
catatan fosil dan organ-organ rumit makhluk hidup (misalnya mata) yang tidak
mungkin dijelaskan dengan konsep kebetulan, dan naluri makhluk hidup. Darwin
berharap kesulitan-kesulitan ini akan teratasi oleh penemuan-penemuan baru;
tetapi bagaimanapun ia tetap mengajukan sejumlah penjelasan yang sangat tidak
memadai untuk sebagian kesulitan tersebut.
Darwin menganggap orang-orang kulit putih Eropa lebih “maju”
dibandingkan ras-ras manusia lainnya. Selain beranggapan bahwa manusia adalah
makhluk mirip kera yang telah berevolusi, Darwin juga ber-pendapatbahwa
beberapa ras manusia berkembang lebih maju dibandingkan ras-ras lain, dan
ras-ras terbelakang ini masih memiliki sifat kera. Dalam bukunya The Descent of
Man yang diterbitkannya setelah The Origin of Species, dengan berani ia
berkomentar tentang “perbedaan-perbedaan besar antara manusia dari beragam
ras”.1 Dalam bukunya tersebut, Darwin berpendapat bahwa orang-orang kulit hitam
dan orang Aborigin Australia sama dengan gorila, dan berkesimpulan bahwa mereka
lambat laun akan “disingkirkan” oleh “ras-ras beradab”.
Di masa mendatang, tidak sampai berabad-abad lagi, ras-ras
manusia beradab hampir dipastikan akan memusnahkan dan menggantikan ras-ras
biadab di seluruh dunia. Pada saat yang sama, kera-kera antropomorfus
(menyerupai manusia)… tak diragukan lagi akan musnah. Selanjutnya jarak antara
manusia dengan padanan terdekatnya akan lebih lebar, karena jarak ini akan
memisahkan manusia dalam keadaan yang lebih beradab — kita dapat berharap
bahkan lebih dari Kaukasian — dengan jenis-jenis kera serendah babun, tidak
seperti sekarang yang hanya memisahkan negro atau penduduk asli Australia
dengan gorila.
MEKANISME KHAYALAN TEORI EVOLUSI
Model neo-Darwinis, yang dapat kita anggap sebagai teori
evolusi yang “paling diakui” saat ini, menyatakan bahwa kehidupan telah
mengalami perubahan atau berevolusi melalui dua mekanisme alamiah: “seleksi
alam” dan “mutasi”. Dasar teori ini sebagai berikut: seleksi alam dan mutasi
adalah dua mekanisme yang saling melengkapi. Modifikasi evolusioner berasal
dari mutasi secara acak yang terjadi pada struktur genetis makhluk hidup.
Sifat-sifat yang ditimbulkan oleh mutasi kemudian diseleksi melalui mekanisme
seleksi alam dan dengan demikian makhluk hidup berevolusi.
Seleksi Alam Sebagai suatu proses alamiah, seleksi alam
telah dikenal ahli biologi sebelum Darwin, yang mendefinisikannya sebagai
“mekanisme yang menjaga agar spesies tidak berubah tanpa menjadi rusak”. Darwin
adalah orang pertama yang mengemukakan bahwa proses ini memiliki kekuatan
evolusi. Ia kemudian membangun seluruh teorinya berlandaskan pernyataan
tersebut. Seleksi alam sebagai dasar teori Darwin ditunjukkan oleh judul yang
ia berikan pada bukunya: The Origin of Species, by means of Natural Selection….
Seleksi alam menyatakan bahwa makhluk-makhluk hidup yang
lebih mampu menyesuaikan diri dengan kondisi alam habitatnya akan mendominasi
dengan cara memiliki keturunan yang mampu bertahan hidup, sebaliknya yang tidak
mampu akan punah. Sebagai contoh, dalam sekelompok rusa yang hidup di bawah
ancaman hewan pemangsa, secara alamiah rusa-rusa yang mampu berlari lebih
kencang akan bertahan hidup. Itu memang benar. Akan tetapi, hingga kapan pun
proses ini berlangsung, tidak akan membuat rusa-rusa tersebut menjadi spesies
lain. Rusa akan tetap menjadi rusa.
Seleksi alam hanya mengeliminir individu-individu suatu
spesies yang cacat, lemah atau tidak mampu beradaptasi dengan habitatnya.
Mekanisme ini tidak dapat menghasilkan spesies baru, informasi genetis baru,
atau organ-organ baru. Dengan demikian, seleksi alam tidak mampu menyebabkan
apa pun berevolusi. Darwin menerima kenyataan ini dengan mengatakan: “Seleksi
alam tidak dapat melakukan apa pun sampai variasi-
Mutasi didefinisikan sebagai pemutusan atau penggantian yang
terjadi pada molekul DNA, yang terdapat dalam inti sel makhluk hidup dan berisi
semua informasi genetis. Pemutusan atau penggantian ini diakibatkan
pengaruh-pengaruh luar seperti radiasi atau reaksi kimiawi. Setiap mutasi
adalah “kecelakaan” dan merusak nukleotida-nukleotida yang membangun DNA atau
mengubah posisinya. Hampir selalu, mutasi menyebabkan kerusakan dan perubahan
yang sedemikian parah sehingga tidak dapat diperbaiki oleh sel tersebut.
Mutasi bersifat kecil, acak dan berbahaya. Mutasi pun jarang
terjadi dan kalau-pun terjadi, kemungkinan besar mutasi itu tidak berguna.
Empat karakteristik mutasi ini menunjukkan bahwa mutasi tidak dapat mengarah
pada perkembangan evolusioner. Suatu perubahan acak pada organisme yang sangat
terspesialisasi
Setiap upaya untuk “menghasilkan mutasi yang menguntungkan”
berakhir dengan kegagalan. Selama puluhan tahun, evolusionis melakukan berbagai
percobaan untuk menghasilkan mutasi pada lalat buah, karena serangga ini
bereproduksi sangat cepat sehingga mutasi akan muncul dengan cepat pula. Dari
generasi ke generasi lalat ini telah dimutasikan, tetapi mutasi yang
menguntungkan tidak pernah dihasilkan.
pelajaran evolusionis contoh-contoh mutasi yang merusak ini
disebut sebagai “bukti evolusi”. Tidak perlu dikatakan lagi, sebuah proses yang
menyebabkan manusia cacat atau sakit tidak mungkin menjadi “mekanisme evolusi”
— evolusi seharusnya menghasilkan bentuk-bentuk yang lebih baik dan lebih mampu
bertahan hidup.
CATATAN FOSIL MEMBANTAH EVOLUSI
Menurut teori evolusi, setiap spesies hidup berasal dari
satu nenek moyang. Spesies yang ada sebelumnya lambat laun berubah menjadi
spesies lain, dan semua spesies muncul dengan cara ini. Menurut teori tersebut,
perubahan ini berlangsung sedikit demi sedikit dalam jangka waktu jutaan tahun.
Dengan demikian, maka seharusnya pernah terdapat sangat
banyak spesies peralihan selama periode perubahan yang panjang ini.
Sebagai contoh, seharusnya terdapat beberapa jenis makhluk
setengah ikan – setengah reptil di masa lampau, dengan beberapa ciri reptil
sebagai tambahan pada ciri ikan yang telah mereka miliki. Atau seharusnya
terdapat beberapa jenis burung-reptil dengan beberapa ciri burung di samping
ciri reptil yang telah mereka miliki. Evolusionis menyebut makhluk-makhluk
imajiner yang mereka yakini hidup di masa lalu ini sebagai “bentuk transisi”.
Jika binatang-binatang seperti ini memang pernah ada, maka
seharusnya mereka muncul dalam jumlah dan variasi sampai jutaan atau milyaran.
Lebih penting lagi, sisa-sisa makhluk-makhluk aneh ini seharusnya ada pada
catatan fosil. Jumlah bentuk-bentuk peralihan ini pun semestinya jauh lebih
besar daripada spesies binatang masa kini dan sisa-sisa mereka seharusnya
ditemukan di seluruh penjuru dunia. Dalam The Origin of Species, Darwin
menjelaskan:
“Jika teori saya benar, pasti pernah terdapat jenis-jenis
bentuk peralihan yang tak terhitung jumlahnya, yang mengaitkan semua spesies
dari kelompok yang sama…. Sudah tentu bukti keberadaan mereka di masa lampau
hanya dapat ditemukan pada peninggalan-peninggalan fosil.”
Bahkan Darwin sendiri sadar akan ketiadaan bentuk-bentuk
peralihan tersebut. Ia berharap bentuk-bentuk
peralihan itu akan ditemukan di masa mendatang. Namun di
balik harapan besarnya ini, ia sadar bahwa rintangan utama teorinya adalah
ketiadaan bentuk-bentuk peralihan. Karena itulah dalam buku The Origin of
Species, pada bab “Difficulties of the Theory”.
Satu-satunya penjelasan Darwin atas hal ini adalah bahwa
catatan fosil yang telah ditemukan hingga kini belum memadai. Ia menegaskan
jika catatan fosil dipelajari secara terperinci, mata rantai yang hilang akan
ditemukan.
Karena mempercayai ramalan Darwin, kaum evolusionis telah
berburu fosil dan melakukan penggalian mencari mata rantai yang hilang di
seluruh penjuru dunia sejak pertengahan abad ke-19. Walaupun mereka telah
bekerja keras, tak satu pun bentuk transisi ditemukan. Bertentangan dengan
kepercayaan evolusionis, semufosil yang ditemukan justru membuktikan bahwa
kehidupan muncul di bumi secara tiba-tiba dan dalam bentuk yang telah lengkap.
Usaha mereka untuk membuktikan teori evolusi justru tanpa sengaja telah
meruntuhkan teori itu sendiri.
Ahli paleontologi evolusionis lainnya, Mark Czarnecki,
berkomentar sebagai berikut:
Kendala utama dalam membuktikan teori evolusi selama ini
adalah catatan fosil; jejak spesies-spesies yang terawetkan dalam lapisan bumi.
Catatan fosil belum pernah mengungkapkan jejak-jejak jenis peralihan hipotetis
Darwin — sebaliknya, spesies muncul dan musnah secara tiba-tiba. Anomali ini
menguatkan argumentasi kreasionis,bahwa setiap spesies diciptakan oleh Tuhan.
Bagaimana bumi ini dipenuhi berbagai jenis binatang secara
tiba-tiba dan bagaimana spesies-spesies yang berbeda-beda ini muncul tanpa
nenek moyang yang sama adalah pertanyaan yang masih belum terjawab oleh
evolusionis. Richard Dawkins, ahli zoologi Oxford, salah satu pembela
evolusionis terkemuka di dunia, berkomentar mengenai realitas ini.
Seperti yang kita pahami, catatan fosil menunjukkan bahwa
makhluk hidup tidak berevolusi dari bentuk primitif ke bentuk yang lebih maju,
tetapi muncul secara tiba-tiba dan dalam keadaan sempurna. Ringkasnya, makhluk
hidup tidak muncul melalui evolusi, tetapi diciptakan. Fosil-Fosil Hidup, Teori
evolusi menyatakan bahwa spesies makhluk hidup terus-menerus berevolusi menjadi
spesies lain. Namun ketika kita membandingkan makhluk hidup dengan fosil-fosil
mereka, kita melihat bahwa mereka tidak berubah setelah jutaan tahun. Fakta ini
adalah bukti nyata yang meruntuhkan pernyataan evolusionis.
nb : tugas mapel Sejarah. karena gak ada printer. Sebetulnya bisa aja ngeprint diluar, tapi baru search sekarang, sedangkan besok dikumpulin, karena modemnya baru isi kuota. hehe... bisa aja sih lewat flashdisk, tapi flashdisknya lagi dibawa salsa. jadi share disini aja yak. gomawo~

Komentar
Posting Komentar