Mata-Telinga
Aku hanya membutuhkan mata dan telingaku,
untuk memecahkan ini.
ketika orang lain mengatakan apa yang membuatku
jatuh,
aku hanya perlu menutupnya.. bahkan menjadi tuli.
Ketika orang lain mengukir prestasi,
aku hanya perlu membatasi pandanganku,
sehingga aku tidak merasa untuk “menyerah saja lah..”
pandanganku sayu,
menatap papan putih penuh tinta spidol.
Menatap barisan kata-kata yang… ah terkadang,
mereka sulit untuk dimengerti.
Bertriliunan angka-angka yang… benar,
terkadang memang memabokkan.
Aku bangun pagi,
dan kembali melakukan aktivitas yang sama.
Ketika aku telah menemui”nya”,
dan bertekad akan mengejarnya,
angka-angka kembali membuatku mundur beberapa
langkah.
Bahkan lebih jauh lagi..

Komentar
Posting Komentar